Rabu, 28 April 2010

Peran Vital Kaltim Prima Coal dalam Pembangunan Kabupaten Kutai Timur

Tahun 2000 adalah awal pengalaman saya menginjakkan kaki di Kalimantan Timur. Sebelum ke Kalimantan Timur saya lebih mengenal provinsi ini sebagai kota penghasil minyak, hal ini juga diperjelas oleh pandangan mata ketika memasuki pelabuhan Semayang Balikpapan. Kobaran api dari beberapa kilang minyak lepas pantai semakin memperkokoh predikat tersebut.
Kepindahan saya dan keluarga saya ke Kalimantan Timur, tepatnya di ibu kota Kabupaten Kutai Timur, Sangata untuk mencoba peruntungan baru, karena kondisi pertumbuhan perekonomian di Sulawesi Tengah sangat lambat sehingga kesempatan untuk mengembangkan usaha keluarga kami menjadi lebih kecil.
Sangatta adalah kota kecil yang tidak begitu istimewa bagi saya waktu itu, kecuali rutinitas beberapa kelompok karyawan berbaju oranye, bercelana jeans dan memekai sepatu safety yang menunggu untuk dijemput atau dipulangkan oleh bus-bus karyawan pada jam-jam tertentu. Saya belum mengerti dengan yang saya lihat. Beberapa hari tinggal di Sangata, saya mulai mencari informasi dengan beberapa warga atau tetangga tentang aktivitas mereka. Dari merekalah saya mulai mengenal KPC. Saya mulai tertarik ketika mereka mulai bercerita tentang KPC. Misalnya ketika saya bertanya pada seorang ibu tentang pekerjaan anaknya, ibu tersebut dengan bangga menjawab, “Oh, anak saya bekerja di KPC”. Di kesempatan lain, saya bertanya pada seorang tetangga tentang pekerjaan temannya, ”Wah, klo dia sih kerjanya di KPC”. Berbagai pernyataan dan ungkapan mereka menunjukkan bahwa menjadi karyawan KPC adalah suatu prestise. Pun demikian alasan-alasan tersebut belum cukup kuat untuk membuat saya terperangah.
Kekaguman saya pada KPC baru muncul tahun 2004 ketika seorang pejabat daerah Kutai Timur datang ke SMA Negeri 1 Sangata tempat saya sekolah dan menyampaikan fakta bahwa KPC merupakan perusahaan batubara terbesar di dunia dengan produksinya yang mencapai 40 juta ton, baru pada saat itu saya benar-benar yakin bahwa KPC memang sebuah hal besar.
Dengan berjalannya waktu, seiring dengan interaksi saya sebagai warga Sangata telah sedikit banyak mendapatkan gambaran bagaimana sebuah perusahaan bernama KPC menjadi suatu icon tersendiri. KPC jelas memiliki andil dalam pembangunan kota Sengata misalnya pembangunan kompleks Town Hall dan perumahan karyawan KPC. Sistem tata kota dan perencanaannya sungguh sangat mengagumkan. Berbeda dengan kota-kota lain yang pernah saya kunjungi, kompleks Town Hall menunjukkan sebuah konsep yang matang dan terencana layaknya sebuah pemukiman ideal. Saya sendiri kagum dengan kondisi sekolah yang dibangun oleh KPC karena sebelumnya saya belum pernah melihat kondisi sekolah seperti SD dan SMP YPPSB serta SMA Negeri 1 Sangata di daerah asal saya di Sulawesi Tengah. Sekolah-sekolah tersebut selain memiliki fasilitas yang relatif lengkap juga memiliki prestasi yang patut dibanggakan tidak hanya di tingkat kabupaten tapi hingga ke tingkat nasional.
Perhatian PT KPC terhadap dunia pendidikan tentu sudah sangat tepat. Peran pendidikan dalam upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia suatu bangsa adalah sangat penting. Dengan memberikan pendidikan yang baik, akan dapat memperluas wawasan dan membuka peluang-peluang baru untuk dikembangkan. Pembangunan sarana pendidikan dengan fasilitas yang memadai akan sangat menunjang siswa-siswinya untuk berprestasi. Hal ini bisa dibuktikan melalui prestasi SD dan SMP YPPSB. Selain memiliki prestasi yang baik di bidang akademis sekolah ini juga memiliki prestasi yang baik di bidang ekstrakurikuler seperti marching band yang beberapa kali menjadi pemenang dalam perlombaan di tingkat provinsi. Fasilitas olahraga yang ada seperti lapangan futsal dan lapangan basket juga memungkinkan siswa untuk mengembangkan bakatnya sehingga ketika duduk di bangku SMA akan menjadi atlet yang mengikuti event olahraga lokal, daerah, maupun nasional. Pantas jika mereka menjadi juara dalam event-event tersebut karena pembinaannya sudah di mulai sejak dini.
Selain SD dan SMP YPPSB, KPC juga membangun sebuah SMA yang pengelolaannya telah diserahkan kepada pihak pemerintah daerah. SMA yang kemudian berganti namanya menjadi SMA Negeri 1 Sangata Utara juga memiliki segudang prestasi baik di tingkat lokal, daerah, maupun nasional. Setiap tahunnya sekolah ini aktif mengikuti event olahraga basket, dan, prestasi tertinggi yang pernah diraih adalah menjadi wakil Kalimantan untuk mengikuti pertandingan di tingkat nasional. Untuk perlombaan olimpiade sains sendiri, hampir semua wakil Kabupaten Kutai Timur berasal dari SMA Negeri 1 Sangata Utara. Ekstrakurikuler lainnya yang memiliki prestasi seperti Pramuka (Juara 1 Lomba Lintas Alam Tingkat Provinsi) dan Teater 21 (Juara 1 Tingkat Provinsi). Alumni sekolah ini juga tidak kesulitan untuk memasuki perguruan tinggi-perguruan tinggi unggulan seperti Universitas Mulawarman, Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya Malang, Universitas Hasanuddin Makassar maupun sekolah-sekolah kedinasan yang ternama.
Alumni-alumni SMA Negeri 1 Sangata Utara yang secara tidak langsung adalah hasil pembinaan PT KPC saat ini telah banyak mengambil peran sosial di masyarakat, setelah menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi mereka kembali ke daerah asalnya untuk mengabdi, ada yang bekerja di pemerintahan, perusahaan swasta, dan berwirausaha. Prestasi-prestasi tersebut tentunya terwujud berkat dukungan sarana pembelajaran sekolah yang lengkap seperti gedung dan laboratorium (Kimia, Biologi, Bahasa, Multimedia, Komputer). Tidak kalah pentingnya adalah dukungan KPC dalam memberikan beasiswa kepada siswa-siswi maupun mahasiswa asal Kutai Timur yang tentu menumbuhkan semangat belajar di kalangan pelajar karena mendapatkan apresiasi atas prestasi mereka.
Keberadaan perusahaan yang peduli seperti KPC di suatu daerah memang sangat dibutuhkan untuk menggerakkan roda perekonomian daerah tersebut. Investor yang menanamkan modalnya tentu akan menjadi peluang kerja baru bagi masyarakat setempat. Seorang yang memiliki pekerjaan dan penghasilan tentu akan memiliki daya beli yang lebih tinggi baik di bidang sandang, pangan, papan, maupun pendidikan. Hal ini akan mendorong sektor-sektor tersebut untuk tumbuh dan berkembang.
Misalnya karyawan yang memiliki gaji tentu akan memiliki konsumsi yang tinggi pada bahan-bahan pangan seperti buah, sayur, ikan, daging, telur, beras, tepung, dan bahan pangan lainnya sehingga agen atau supplier bahan-bahan tersebut akan meningkatkan kapasitas produksi atau suplay produknya. Peningkatan kapasitas produksi artinya penambahan jumlah pekerja, hal ini tentu akan menjadi peluang kerja baru bagi masyarakat lokal, begitu juga peningkatan suplay barang dari Samarinda misalnya, tentu akan membutuhkan jasa transportasi sehingga membuka sebuah peluang usaha baru, peluang usaha baru berarti peluang kerja baru. Ini baru dari segi penyediaan pangan, belum lagi dari segi lain.
Keberadaan kegiatan pertambangan telah lama menarik minat pendatang untuk mencari pekerjaan, hal ini tentu memberi keuntungan bagi pemilik modal (tanah). Pendatang yang ada tentu membutuhkan tempat tinggal. Pemilik tanah dalam hal ini dapat menyediakan rumah untuk disewa oleh pendatang-pendatang tersebut atau mungkin menjual tanahnya dengan harga yang kompetitif tentunya. Mengingat kebutuhan akan tempat tinggal termasuk kebutuhan primer manusia. Proses pembangunan perumahan sendiri merupakan peluang bagi jasa konstruksi, penyediaan bahan-bahan bangunan, dan properti. Begitu seterusnya efek domino yang ditimbulkan oleh keberadaan sebuah investor dalam hal ini keberadaan KPC di daerah Kabupaten Kutai Timur
Hal positif lain dari keberadaan KPC di Kabupaten Kutai Timur adalah adanya Corporate Social Responsibility (CSR) yang merupakan bentuk peran serta dan kepeduliaan KPC terhadap lingkungan dan aspek sosial. Menurut beberapa artikel di media massa yang saya baca, KPC mengucurkan US$ 5 juta setiap tahun untuk kegiatan CSR ini. Nilai ini setara dengan Rp 45,5 miliar dengan asumsi nilai rupiah sebesar Rp 9.100 per dolar. Sebagai bentuk implementasi dari program CSR ini antara lain KPC memberikan lahan seluas 300 hektare untuk ditanami kakao. Warga juga diberi pelatihan, bibit dan pupuk. Masyarakat Bengalon sendiri mendapatkan bantuan yakni dengan dibangunnya kolam udang dan diberikan pinjaman kredit mikro, tak kurang dari 700 orang mendapatkan bantuan pinjaman tersebut, di Kabo, KPC membangun perkebunan pisang dan peternakan ayam. Sedangkan pembangunan infrastruktur telah dilakukan berupa program irigasi di Desa Sepaso, dan pembangunan jalan. Masyarakat setempat juga dimanjakan dengan fasilitas olah raga berupa pembuatan lapangan sepakbola. Sebuah lembaga pendidikan bahasa Inggris yang meniru konsep pembelajaran English Village (perkampungan bahasa Inggris) juga mendapatkan perhatian dari KPC dengan memberikan bantuan sebesar 14,5 juta rupiah. Lembaga Pelatihan Kerja Global English Work Place (LPK GEWC) yang bertempat di jalan Yos Sudarso, Sangata Utara ini sangat digemari oleh kalangan ibu-ibu rumah tangga maupun karyawan selain kalangan pelajar tentunya. Saat ini tercatat sekitar 60 orang mengikuti pelatihan bahasa Inggris di LPK ini.
KPC memang telah memberi andil yang tidak bisa dibilang kecil pada pembangunan daerah Kutai Timur. Secara keseluruhan KPC telah memberikan peningkatan kesejahteraan kepada masyarakat Kabupaten Kutai Timur. Ke depan, andil tersebut tentu masih bisa ditingkatkan, apalagi jika dibandingkan dengan keuntungan yang telah diperoleh KPC dari Kutim, seharusnya KPC bisa memberikan sumbangsih yang lebih besar lagi. Pengelolaan dana CSR seyogyanya dilakukan secara transparan dan tepat sasaran sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat keberadaan perusahaan tersebut.
Dengan kenaikan harga batu bara dan kenaikan produksi tahun ini, sebagai perusahaan batubara terbesar di dunia dengan keuntungan yang terus meningkat. Sudah selayaknya jika masyarakat Kutai Timur ikut merasakan amanat UUD 1945 yang menyebutkan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat. Jangan sampai terjadi bahwa masyarakat yang akan menjadi korban dari eksploitasi batubara didaerah mereka sendiri. Ketika batubara yang akan dikeruk semakin menipis atau mungkin akan habis, tentu kondisi sosial masyarakat akan berubah. Saat ituah masyarakat Kutai Timur akan merasakan dampak negatif jika pengelolaan tambang tidak bijaksana. Banyak agenda yang harus diperhatikan jika roda perekonomian tidak berjalan lancar seperti saat kegiatan pertambangan masih berjalan, ataupun dampak lingkungan yang ditimbulkan pada lokasi bekas tambang batubara.
Saat ini merupakan waktu yang tepat bagi KPC, masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, untuk kembali mengembalikan gagasan kesejahteraan rakyat seperti amanat para pendiri Negara kita. Ini juga demi Kutai Timur agar tetap bisa mandiri pasca masa keemasan industri batu bara. Masih belum terlambat.
Sastro Wijaya
Mahasiswa Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman
Jl. Gunung Ciremai Gang 3 No. 28 RT 01, Samarinda
Contact Person: 0852 5098 2836

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar